Friday, July 13, 2012

RI, Negara Paling Pede Hadapi Ekonomi : Hal ini terbukti dari survei pebisnis terhadap ekonomi di kuartal III


Foto: Viva.co.id


VIVAnews - Para pelaku usaha di Indonesia menjadi pihak paling optimistis dalam menjalankan bisnis mereka di tengah gejolak perekonomian dunia. Tercatat, 9 dari 10 perusahaan yakin bisnis mereka akan lebih baik pada kuartal III mendatang.

Optimisme tersebut diketahui dari survei kuartalan yang dikeluarkan Standard Chartered seperti dikutip VIVAnews dari laman CNBC, Jumat 13 Juli 2012.

Selama ini, ekonomi Indonesia diketahui tak terlalu mengandalkan kegiatan ekspor. Justru, Indonesia banyak mengandalkan konsumsi dalam negeri dibandingkan negara pesaingnya di Asia.

Pertumbuhan ekonomi Indonesia juga ditopang oleh jumlah kelas menengah yang terus menunjukkan kenaikan. Pertambahan itu akibat kenaikan pendapatan per kapita masyarakat di Tanah Air.

Dengan keuntungan tersebut, bank asal Inggris itu menilai Indonesia cukup mampu meredam pelemahan ekonomi dunia yang terjadi di Amerika Serikat dan Eropa, dua tujuan ekspor negara-negara Asia.

"Secara keseluruhan, perekonomian dunia masih fokus pada posisi mempertahankan diri," kata Head of Equity Strategy Standard Chartered, Clive McDonnell.

McDonnell mengakui, Indonesia memang masih mengandalkan ekspor untuk komoditas seperti batu bara dengan tujuan China dan India. Namun, Indonesia juga dianggap mampu bertahan dari pesaingnya di Asia Utara, karena faktor dalam negerinya.

Dengan kondisi ini, sebanyak 81 persen dari perusahaan Indonesia berharap tingkat permintaan produk akan naik 10 persen pada kuartal ini. Rata-rata permintaan di kawasan Asia mencapai 66 persen.

Survei ini juga menemukan, 6 dari 10 perusahaan Indonesia berharap keuntungan akan meningkat di atas rata-rata. Di kawasan Asia, masalah inflasi masih menjadi kekhawatiran setelah mencuat pada kuartal II lalu.

Di antara negara-negara Asia, Hong Kong merupakan salah satu negara bagian yang paling pesimistis menghadapi perekonomian pada kuartal III. Hal itu bisa dimaklumi, mengingat Hong Kong banyak mengandalkan perekonomiannya dari kegiatan ekspor.

Seiring turunnya peluang pertumbuhan, responden di Hong Kong juga berencana menurunkan investasi maupun perekrutan pegawai. Walau yakin beban biaya akan turun, sehingga mendorong laju keuntungan, para pelaku usaha Hong Kong menilai perlambatan ekonomi China akan mengurangi peningkatan margin itu. (art)

Sumber: Viva.co.id

No comments:

Post a Comment