Friday, July 20, 2012

KIAT KOCEK: Instrumen jangka pendek lebih aman untuk dilirik


JAKARTA. Belakangan Robby semakin rajin membaca berita pasar modal dan mengikuti pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG). Karyawan sebuah perusahaan tekstil ini khawatir penurunan IHSG yang terjadi belakangan ini membuat rencananya menikah tahun depan terancam.

Apa hubungan antara rencana pernikahan Robby dengan penurunan IHSG? Rupanya, pria ini menyimpan dana untuk biaya pernikahannya dalam bentuk reksadana saham. Asal tahu saja, IHSG terus tertekan belakangan ini. Per Jumat (1/6), IHSG sempat jatuh di bawah 3.800, tepatnya di 3.799,77. Angka tersebut sudah lebih rendah ketimbang posisi indeks di akhir 2011 yang berada di 3.821,99.



Wajar kalau Robby pusing bukan kepalang. Mau mencairkan dana keluar dari reksadana pun ia merasa sudah tanggung. Apalagi, umur reksadana miliknya belum sampai setahun sehingga bakal terkena redemption fee bila mencairkannya saat ini. Apa boleh buat, kini Robby memilih menunggu pasar membaik kembali.

Memburuknya pasar modal seperti sekarang memang membuat investor kesulitan memilih instrumen investasi untuk membiakkan dana secara maksimal. Harga saham yang terus turun jelas membuat investor kesulitan mengail untung dari pasar saham.

Investor saat ini juga sulit mengharapkan keuntungan dari pasar obligasi karena harga obligasi terus turun. Pekan lalu, indeks obligasi pemerintah versi Himpunan Pedagang SUN (Himdasun) menyentuh level terendah di tahun ini. Namun, bagi yang ingin masuk sekarang, sebenarnya justru terbuka peluang untuk mendapatkan yield atau imbal hasil tinggi. Meski demikian, investor mesti sadar, masih ada risiko harganya turun lebih dalam lagi.

Di lain pihak, investor sulit mengandalkan produk perbankan seperti tabungan atau deposito untuk mendapatkan keuntungan. Sebab, bunga dari
produk perbankan saat ini terbilang mini. “Imbal hasil produk perbankan tidak maksimal untuk investasi,” tutur Freddy Pieloor, perencana keuangan dari Money’n’Love Financial Planning & Consulting.

Lantas, bagaimana sebaiknya investor menginvestasikan dananya di saat pasar modal sedang tertekan seperti saat ini? Para perencana keuangan menegaskan, pada dasarnya investor tidak perlu khawatir terhadap kondisi saat ini. Meski saat ini kondisi di pasar modal tampak buruk, kondisi ini diyakini hanya sementara. “Saya kira di semester dua nanti tanda-tanda pemulihan akan mulai terlihat,” ujar Agus B. Yanuar, Presiden Direktur Samuel Aset Manajemen.

Cari tahu jangka waktu investasi

Meski begitu, bukan berarti Anda bisa sembarangan menginvestasikan dana di saat pasar sedang tertekan seperti sekarang. Strategi pengelolaan investasi di saat kondisi pasar modal sedang buruk seperti saat ini akan bergantung pada horizon investasi Anda.

Nah, horizon investasi sendiri berkaitan dengan tujuan Anda melakukan investasi. Jadi, untuk berinvestasi di saat kondisi pasar modal sedang tidak bagus, langkah pertama yang harus Anda lakukan adalah menetapkan secara jelas tujuan investasi Anda. Setelah mengetahui tujuan investasi dan lama waktu investasi, Anda bisa menentukan produk investasi serta strategi investasi yang cocok dengan tujuan investasi. Tentu saja, Anda tetap harus memperhatikan karakter risiko Anda.

Ambil contoh, Anda berinvestasi dengan tujuan menyiapkan dana kuliah bagi anak enam tahun mendatang. Dengan demikian, Anda memiliki waktu enam tahun untuk membiakkan uang Anda untuk keperluan biaya kuliah tersebut. Dengan horizon investasi di atas lima tahun, berarti Anda akan berinvestasi untuk jangka panjang. Para perencana keuangan sepakat, bagi tujuan investasi jangka panjang, kondisi pasar modal seperti saat ini justru bisa menjadi berkah.

Fauziyah Arsiyanti, perencana keuangan dari Fahima Advisory, menuturkan, penurunan harga saham dan obligasi saat ini bisa dimanfaatkan investor jangka panjang mengisi portofolio. “Ibarat belanja di mal, saat ini kita bisa belanja barang dengan harga sale,” tandas Zizi, sapaan akrab Fauziyah.

Ia bilang, instrumen investasi berbasis saham bisa dipertimbangkan untuk sarana investasi jangka panjang. “Produk berbasis saham itu lebih cocok untuk investasi yang jangka waktunya lima tahun ke atas,” tutur Zizi.

Meski begitu, sebaiknya Anda tidak lantas jorjoran menanamkan investasi di produk berbasis saham. Dalam keadaan seperti ini, lebih ideal kalau Anda menempatkan investasi dalam nilai terbatas secara bertahap.

Dengan demikian Anda bisa mengurangi risiko kerugian investasi jika harga saham masih terus turun. Sebaliknya, ketika harga membaik, kerugian yang timbul dari dana yang Anda tempatkan saat harga saham lebih tinggi akan ditutup oleh keuntungan yang diperoleh dari dana yang Anda tanamkan pada saat harga saham lebih rendah.

Lain cerita kalau tujuan investasi Anda akan tercapai dalam waktu satu hingga dua tahun, sebaiknya Anda menghindari produk investasi berbasis saham. Sebab, belanja saham saat ini mengandung risiko sangat tinggi jika horizon investasi Anda jangka pendek–menengah. Cuma, menurut Agus, investor dengan profil risiko agresif masih bisa menempatkan dana di pasar saham dengan porsi relatif kecil untuk menghindari risiko rugi. “Atau, beli reksadana saham dan biarkan manajer investasi yang mengelola dana,” papar dia.

Bagi investasi jangka pendek, para perencana keuangan merekomendasikan investor menempatkan dana di produk investasi yang likuid, seperti deposito atau reksadana pasar uang. Selain itu, emas dan reksadana pendapatan tetap juga bisa menjadi pilihan. Hanya saja, Zizi mengingatkan, investor tidak bisa mengharapkan keuntungan tinggi. “Tujuannya lebih untuk mengamankan dana guna memenuhi tujuan investasi yang ditetapkan,” ujarnya.

Nah, bagaimana, prospek investasi instrumen-instrumen pengaman dana tersebut? Mari kita tengok satu per satu.

Deposito

Saat ini, tingkat bunga deposito perbankan memang tidak terlalu tinggi. Namun, para perencana keuangan menilai deposito bisa menjadi salah satu alternatif instrumen penempatan dana saat krisis, terutama untuk investasi bertenor satu tahun sampai dua tahun.

Lantaran imbal hasil yang diberikan produk ini sangat kecil, para perencana keuangan menegaskan agar investor tidak memberlakukan produk ini sebagai produk investasi. “Deposito hanya sebagai tempat untuk menempatkan dana sementara,” kata Freddy.

Zizi menambahkan, investor bisa menggunakan deposito untuk melindungi modal investasi dalam kondisi pasar modal yang buruk. “Nilai modal yang disiapkan untuk investasi tidak berubah dan investor tetap bisa mendapat keuntungan meski tipis,” sebut dia.

Selain itu, dengan menempatkan dana di deposito, investor bisa menjadikan modal investasi tersebut sebagai dana darurat untuk menutupi pengeluaran tidak terduga. Misalnya, untuk biaya pengobatan anggota keluarga yang tiba-tiba sakit.

Reksadana pasar uang

Di saat kondisi pasar modal sedang bergejolak, reksadana pasar uang bisa menjadi pilihan untuk memenuhi kebutuhan investasi jangka pendek. “Risiko reksadana pasar uang lebih kecil,” cetus Prita Hapsari Ghozie, perencana keuangan dari Zap Finance. Di lain sisi, reksadana pasar uang masih bisa memberikan imbal hasil lebih besar ketimbang deposito.

Reksadana pasar uang juga bisa menjadi penyeimbang bagi investor yang tetap memilih menempatkan sebagian dana investasi ke instrumen berbasis saham. Investor tersebut bisa mengurangi porsi investasi di reksadana saham dan memperbesar penempatan di reksadana pasar uang.

Zizi berpendapat lain. Dalam kondisi pasar modal yang buruk seperti sekarang, ia tidak menyarankan investor menempatkan dana di reksadana pasar uang. Alasan dia, investor tetap terpapar risiko penurunan nilai aset dasar, sementara imbal hasilnya tidak terlalu besar. Sama halnya deposito, reksadana pasar uang cocok untuk memenuhi tujuan investasi yang akan tercapai dalam waktu setahun sampai dua tahun.

Produk berbasis obligasi

Seperti halnya harga saham, harga obligasi juga turut turun. Meski begitu, perencana keuangan menilai investor bisa memanfaatkan reksadana pendapatan tetap untuk mencari keuntungan di tengah situasi pasar modal yang kurang baik.

Agar bisa mendapatkan imbal hasil yang optimal, para perencana keuangan menyarankan agar investor menempatkan dana di instrumen investasi ini setidaknya tiga tahun. “Reksadana pendapatan tetap masih bisa memberi imbal hasil setidaknya 8%–10% tahun ini,” sebut Agus.

Namun, dalam jangka pendek, di saat kondisi pasar sedang buruk, investor akan menghadapi risiko penurunan nilai aset dasar (underlying asset). Untuk menghindari risiko tersebut, investor bisa mencoba menempatkan dana di reksadana terproteksi. “Dengan masuk ke reksadana terproteksi, setidaknya modal investor tetap aman dan tidak berkurang,” sebut Prita.

Emas

Belakangan harga emas juga mengalami penurunan. Meski begitu, para perencana keuangan menilai emas tetap layak dipertimbangkan sebagai salah satu alternatif instrumen investasi di saat kondisi pasar modal sedang buruk.

Alasan mereka, harga emas tidak terpengaruh oleh inflasi. Logam mulia ini juga terhitung instrumen investasi yang likuid. “Kalau dana sudah dibutuhkan, investor bisa menjual emasnya dengan mudah,” sebut Freddy.

Tambah lagi, kecenderungan harga emas naik di masa depan cukup besar. Dengan demikian, emas merupakan instrumen yang cocok untuk melindungi modal investasi.

Lalu, bagaimana dengan porsi penempatan dana di masing-masing instrumen? Dalam kondisi pasar seperti saat ini, para perencana keuangan menyarankan investor jangka menengah bisa menempatkan 50% investasi di produk yang likuid, seperti reksadana pasar uang dan deposito.
Lalu, sekitar 20% dana investasi bisa ditempatkan di produk investasi berbasis obligasi dan 20% di emas. Bila investor berniat menempatkan dana investasi di produk berbasis saham, perencana keuangan menyarankan agar porsinya tidak lebih dari 10%. Nah, silakan pilih investasi yang cocok buat Anda.

Sumber: Kontan.co.id

No comments:

Post a Comment