Thursday, June 7, 2012

Bursa Rebound, Saham Mana Menarik?


VIVAnews - Indeks harga saham gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia berangsur membaik. Setelah tertekan selama empat hari berturut-turut, indeks kembali menguat pada dua kali penutupan transaksinya.

Pada akhir perdagangan Rabu 6 Juni 2012, indeks saham terangkat 123,45 poin (3,32 persen) ke posisi 3.841,33. IHSG sempat menyentuh level tertinggi di 3.841,48 dan terendah 3.734,72.

Sedangkan penutupan perdagangan sehari sebelumnya, Selasa 5 Juni 2012, indeks saham menguat 63,2 poin (1,73 persen) ke level 3.717,8. IHSG sempat menembus posisi tertinggi di 3.735,45 dan terendah 3.696,96.

Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia, pada perdagangan Rabu, volume transaksi tercatat 8,83 juta lot senilai Rp4,74 triliun dengan frekuensi 153.579 kali. Sebanyak 265 saham menguat, 132 melemah, 50 stagnan, serta 146 saham tidak terjadi transaksi.

Seluruh indeks sektoral bergerak positif, dengan penguatan terbesar dialami saham-saham aneka industri yang naik 5,06 persen. Disusul indeks saham industri dasar yang terangkat 4,10 persen, agribisnis 4,10 persen, dan perbankan naik 4,07 persen.

Meski dalam posisi net selling Rp245,7 miliar, pemodal asing di pasar reguler terlihat terus meramaikan bursa. Mereka membeli saham sebesar Rp1,39 triliun, sedangkan penjualan mencapai Rp1,64 triliun.

IHSG berhasil melanjutkan rebound perdagangan hari sebelumnya, menurut analis PT Panin Sekuritas Tbk, Purwoko Sartono, didukung data industri jasa Amerika Serikat per Mei 2012 yang positif dan valuasi indeks S&P 500 yang sudah murah.

Selain itu, prediksi pelaku pasar bakal adanya dana bantuan negara-negara Eropa yang sedang dipersiapkan untuk Spanyol juga menjadi pemicu ramainya aksi beli saham di BEI.

"Data pertumbuhan produk domestik bruto (PDB) Australia juga menjadi katalis positif bagi bursa regional Asia Pasifik, termasuk IHSG," kata dia kepada VIVAnews, Rabu.

Di bursa Asia, indeks bursa saham Indonesia tercatat mengalami penguatan terbesar. Sebab, di saat IHSG naik hingga tiga persen, saham regional menguat tidak sampai dua persen.
Indeks Hang Seng terangkat 261,50 poin (1,43 persen) ke level 18.520,53, Nikkei 225 menguat 151,53 poin atau 1,81 persen di posisi 8.533,53, dan Straits Times naik 48,52 poin (1,79 persen) menjadi 2.760,83.

Saham Rebound
Pergerakan positif IHSG itu, lanjut Purwoko, tentunya tidak terlepas dari pergerakan saham-saham di pasar Bursa Efek Indonesia. Terutama, sejumlah saham yang terbilang cukup murah karena terkoreksi selama dua pekan terakhir.
"Banyak saham yang undervalue (di bawah nilai wajarnya). Nah, saham itu yang pertama menguat karena diburu investor seiring harga yang terdiskon banyak dan rebound-nya indeks," ujarnya.

Saham-saham yang menguat banyak, ungkapnya, di antaranya saham unggulan (blue chips) atau berkapitalisasi pasar besar (big caps) yang juga menjadi penggerak indeks.

Berdasarkan data BEI, pada perdagangan Rabu, saham-saham yang mendorong penguatan kembali IHSG di antaranya berasal dari blue chips atau big caps.

Saham-saham itu di antaranya PT Indo Tambangraya Megah Tbk (ITMG) yang naik Rp1.900 (6,22 persen) menjadi Rp31.400, PT United Tractors Tbk (UNTR) terangkat Rp1.650 (7,55 persen) ke level Rp22.500, PT Astra Agro Lestari Tbk (AALI) menguat Rp1.550 (7,75 persen) di posisi Rp21.550, PT HM Sampoerna Tbk (HMSP) naik Rp1.450 (2,93 persen) menjadi Rp50.900, dan PT Gudang Garam Tbk (GGRM) yang  menguat Rp1.400 (2,57 persen) ke level Rp55.800.

Purwoko menuturkan, saham-saham papan atas tersebut sepertinya tetap diburu pemodal pada transaksi pekan ini seiring harga yang terbilang masih murah dan undervalue. "Jadi, potensi terkerek harganya tetap terbuka," kata dia.

Selain itu, bila ditinjau per sektor, menurutnya, saham-saham di industri perbankan dan pertambangan juga berpeluang melanjutkan rebound harga pada perdagangan jangka pendek. Selain terdiskon, sisi teknis masih menunjukkan penguatan harga setelah terkoreksi tajam dua pekan terakhir.

Saham-saham itu, antara lain PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBRI), PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI), PT Bank Pan Indonesia Tbk (PNBN). Sedangkan sektor tambang seperti PT Bukit Asam Tbk (PTBA), PT Aneka Tambang Tbk (ANTM), dan PT Adaro Energy Tbk (ADRO).

"Tiga saham bank itu menarik bila ditinjau secara fundamental, yakni PBV (price to book value) yang murah. Sebab, PBV-nya 1-4 kali, sedangkan rata-rata sektornya 6-12 kali. Kalau industri tambang, karena terbawa sentimen penguatan harga komoditas di pasar dunia," tutur Purwoko.

Analis PT MNC Securities, Edwin Sebayang, juga berpendapat, investor asing maupun lokal sepertinya masih memburu saham-saham yang berpeluang rebound setelah terkoreksi signifikan beberapa waktu lalu. Selain fundamental yang positif, sisi teknis turut menjadi alasan menariknya saham tersebut.

"Terutama, pilih yang PER (price to earning ratio) murah dan terkait kinerja perseroan yang menjanjikan di tahun ini. Selain itu, sisi teknis juga tetap menjadi pertimbangan."

Edwin merekomendasikan, saham-saham seperti PT Astra International Tbk (ASII), PT Indocement Tunggal Prakarsa Tbk (INTP), PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGAS), dan PT Total Bangun Persada Tbk (TOTL).
Analis PT Lautandhana Securindo, Willy Sanjaya, juga sependapat bahwa beberapa saham di sektor pertambangan masih cukup menarik. "Apalagi, sentimen di sektor batu bara juga mendukung," kata Willy.

Menurut dia, usulan agar sektor pertambangan batu bara di Indonesia tidak perlu dikenai instrumen fiskal tambahan, seperti bea keluar ekspor bakal direspons pelaku pasar.
Imbal Hasil Menjanjikan
Sementara itu, Badan Pengawas Pasar Modal dan Lembaga Keuangan (Bapepam-LK) meminta pelaku pasar modal tidak panik dengan tren penurunan bursa global yang saat ini tengah memengaruhi IHSG.

Ketua Bapepam-LK, Nurhaida, melihat bahwa penurunan indeks di BEI yang terjadi sejak Mei hingga awal Juni ini, sejalan dengan kondisi yang terjadi pada bursa global dan regional.

Ia menambahkan, sesuai dengan sifat investasi di pasar modal yang memiliki sifat jangka panjang, pelaku pasar diminta tidak perlu khawatir, karena jika dilihat dari imbal hasil (return) di pasar modal Indonesia masih cukup bagus.

"Kita tunggu saja perkembangan selanjutnya. Senin kemarin, semua indeks tutup di level merah, tetapi lihat year-to-date-nya. Meski IHSG minus empat persen, long term investmentmenjanjikan," kata Nurhaida ketika ditemui di gedung BEI, Jakarta, Selasa.

Sebab, dia melanjutkan, jika mengacu selama satu tahun, kejatuhan memang cukup besar, tapi referensi harganya naik dibanding negara lain.

Nurhaida melanjutkan, bila melihat horizon jangka panjang, sejak krisis 2008, return di pasar modal Indonesia paling tinggi. Namun, pemantauan tetap dilakukan, walau kondisinya tidak dikatakan paling parah. "Sesuai Crisis Management Protocol (CMP) masih dalam kondisi normal, meski harus dilihat lebih detail lagi dari ambang yang ada," ujarnya.

Menyikapi hal tersebut, menurut Nurhaida, Bapepam-LK tetap akan mengambil langkah-langkah dengan berkoordinasi bersama Bursa Efek Indonesia, agar mengambil langkah sesuai prosedur standar operasi (SOP) yang ada.

Direktur Utama PT Bursa Efek Indonesia, Ito Warsito, mengatakan bahwa fundamental ekonomi Indonesia masih cukup kuat. Hal ini didukung emiten dalam negeri yang mempunyai kinerja positif, sehingga tidak ada yang perlu dikhawatirkan kondisi bursa saham domestik beberapa hari belakangan ini.

Dia menuturkan, pelemahan IHSG cenderung didorong oleh sentimen global. Sedangkan dari dalam negeri tidak ada sentimen negatif yang dapat menekan indeks BEI.

"Penurunan indeks saham hanya kecenderungan global saja. Awal pekan ini, bursa saham global merah semua. Namun, fundamental emiten dan ekonomi Indonesia masih tetap baik," kata Ito, ketika ditemui di kantornya.
Seperti diketahui, IHSG di Bursa Efek Indonesia ditutup terkoreksi 145,18 poin atau 3,83 persen ke level 3.654,58 pada transaksi awal pekan ini, Senin 4 Juni 2012. Lengkapnya, silakan buka tautan ini.

No comments:

Post a Comment