Monday, June 18, 2012

AirAsia Lega Tak Lagi Terikat Malaysian Airlines

Jakarta - Bos AirAsia Tony Fernandes menyatakan lega sudah tidak lagi terikat dengan maskapai yang sakit-sakitan, Malaysian Airlines (MAS). AirAsia akan bisa lebih fokus mengembangkan dirinya sendiri.

Salah satu pihak yang paling menentang keterikatan ini adalah serikat pekerja MAS yang sering berdemo untuk menolak hal tersebut. Selain itu, menurut Fernandes, maskapai milik negara Malaysia itu juga punya banyak masalah yang sulit.

"Ini seperti menelan pil untuk menurunkan tingkat tekanan darah begitu rencana tersebut batal. Saya serius," katanya kepada The Edge business daily yang dikutip AFP, Senin (18/6/2012).

"Kadang ada perlunya Anda disadarkan oleh seseorang. Kami sudah membangun maskapai yang luar biasa AirAsia, kami tidak menyadarinya sampai melihat maskapai lain," ujarnya.

Komentar ini keluar hanya dua hari setelah AirAsia mengumumkan untuk memindahkan kantor divisi perencanaan strategis dari Malaysia ke Indonesia. Tindakan tersebut dilakukan guna memperluas operasi regional.

Bulan Agustus tahun lalu, maskapai murah AirAsia bersedia membeli 20,5% saham Malaysia Airlines melalui kerjasama strategis yang diharapkan bisa menyelamatkan maskapai milik negara yang sedang merugi tersebut.

Kerjasama itu akan memberikan kesempatan kepada CEO AirAsia, Tony Fernandes, yang sudah mulai memimpin maskapai itu sejak hampir sepuluh tahun lalu, melakukan penyelamatan terhadap maskapai milik pemerintah tersebut.

Perusahaan investasi milik negara Malaysia, Khazanah Nasional, yang sebelumnya menguasai 70% saham Malaysia Airlineas akan memegang 10% saham di Tune Air, induk usaha AirAsia setelah dilakukan tukar guling saham.

Akan tetapi, perjanjian tersebut menyulut kontroversi setelah 15.000 serikat pekerja Malaysia Airlines melakukan protes karena ditakutkan akan terjadi pemangkasan pegawai dalam rangka efisiensi.

"Memang bisnis itu harus sedikit menderita dulu sebelum sukses, tidak bisa enak-enakan tanpa hasil saja," katanya.

Sehingga, rencana tukar guling saham (share swap) pun terpaksa dibatalkan akibat desakan serikat pekerja tersebut. "Akhirnya kami sampai pada poin yang percuma untuk dibahas lebih lanjut... saya senang semuanya sudah berakhir," tambahnya.




(ang/dnl) Angga Aliya - detikfinance

No comments:

Post a Comment